Langsung ke konten utama

Postingan

Ruang Rindu Part I

“Udahlah terserah kamu aja, aku capek sama hubungan ini!” Marini langsung mematikan handphone-nya. Sudah seminggu hubungan Marini dan Andito sedang tidak baik. Hubungan jarak jauh memang tidak mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jangankan hubungan jarak jauh, hubungan wajar yang sering bertemu pun memang terkadang terasa sulit dijalani kalau keduanya tidak saling mengerti.  Setelah lulus SMA, Andito melanjutkan kuliahnya di Bandung, sedangkan Marini tetap berada di kota kelahirannya di Tasikmalaya. Andito cowok yang cukup tampan dan nggak sedikit cewek yang mengejar-ngejarnya. Dan karena kepintarannya pun membuat Andito sering dikerubuti banyak cewek semasa sekolahnya. Marini? Cewek biasa, tetapi mempunyai daya tarik yang cukup kuat. Mungkin karena dia mudah bergaul, cewek ini banyak disukai oleh orang, dan tentunya jumlah temannya pun tidak sedikit. Andito dan Marini berhubungan sudah cukup lama, dari SMA mereka memang sudah dekat, namun mereka baru berani menjalin ...

Tips Merawat Rambut ^^

Tips merawat rambut agar tetap sehat : Rutin keramas, minimal dua kali sehari.  Jangan terlalu lama mengikat rambut, karena bisa mempengaruhi tekstur rambut.  Sehabis keramas, gunakanlah conditioner, supaya rambut tetap lembut dan mudah diatur.  Gunakan hair tonic juga. Point ini sangat dianjurkan untuk rambut yang rontok.  Sehabis keramas, biarkan dahulu rambut kering, sebelum kita mengikat atau berkerudung.  Gunting rambut secara teratur. Hal ini berfungsi, supaya rambut kita tetap sehat, tidak bercabang, mudah patah atau kering.  Konsumsi makanan bergizi. Rambut sehat, memerlukan asupan gizi yang baik. Kurangnya asupan protein dan vitamin, bisa menyebabkan rambut kita kering, kusam dan rontok.  Jauhi sinar matahari. Terik matahari dapat merusak rambut, sebaiknya ketika kita akan bepergian ketika panas, gunakanlah kerudung, topi atau payung. semoga tips yang saya tulis, bisa bermanfaat ^^

Serpihan Masa Lalu (Part VI - Tamat)

“Aku ikut tidur bentar Mel,” pintaku saat memasuki kamar yang bernuansa pink miliknya. Amel hanya terdiam, tidak mengiyakan atau menolak pintaku. Dia memang mengerti aku, dan dia tidak akan memaksaku untuk bercerita di saat situasi seperti ini. Aku hanya ingin tertidur untuk beberapa saat, dan berharap semua masalah yang sedang menimpaku ini hanyalah mimpi buruk. Tetapi sepertinya, keinginanku itu sulit untuk menjadi kenyataan. Karena memang saat ini aku sedang tidak bermimpi, semua yang aku rasakan itu nyata dan memang benar-benar terjadi. Setelah beberapa saat menutup mata (hanya menutup mata, tidak tertidur), perasaanku mulai tenang, dan disitulah aku memberanikan diri untuk bercerita semua bebanku kepada Amel. Mulutku mulai berucap dan mengeluarkan kata demi kata. Aku bercerita semuanya, tentang keluargaku, beban hidupku dan Dimas. Ya, Amel cukup marah, ketika aku bercerita tentang Dimas, karena sebelumnya aku belum pernah bercerita kepadanya. Amel tidak tahu kalau aku mempunyai te...

Serpihan Masa Lalu (Part V)

Ajakan Dimas tadi pagi, membuatku bingung dan senang. Aku bingung, kenapa dia mengajakku bertemu, padahal setahuku tidak ada hal penting yang akan kami bicarakan nanti. Tapi ya sudahlah, mungkin dia memang ada perlu denganku. Dia mengajakku bertemu di kantin depan kampus. Tempat yang cukup ramai, pikirku. Dimana? Kita jadi ketemu nggak? Aku mengirim pesan untuk menanyakannya lagi, hanya untuk meyakinkan, siapa tahu tadi pagi itu aku salah dengar. Dimas tidak membalas pesanku juga, dan aku pikir aku memang salah mendengar percakapannya dipagi itu. “Ah.. ya sudahlah, jangan terlalu berharap,” gumamku dalam hati. Jujur, sekarang ini aku memang berharap lebih kepadanya. Mungkin karena kebaikan dia yang terlalu berlebih, membuatku merasa nyaman untuk terus bersamanya. Ya walaupun hanya bersama melalui dunia teknologi. Jadwal kuliah siang itu memang kosong, sekitar pukul 15.15 nanti dilanjut mata kuliah bahasa. Karena Dimas tidak kunjung membalas pesanku, akhirnya aku putuskan untuk...

Serpihan Masa Lalu (Part IV)

Malam itu aku tutup dengan deraian air mata lagi, aku masih sangat sulit untuk menghapus kenangan-kenangan masa lalu dan menerima kenyataan sekarang. Walaupun aku tahu Tuhan selalu ada di sisiku dan Ia akan memberikan jalan yang terbaik. Aku juga tahu, suatu saat kemenangan pasti akan menghampiriku, asalkan aku kuat menjalani semua rintangannya. “Tuhan.. terimakasih untuk hari ini, semoga esok lebih baik, baik, dan baik lagi. Semoga aku bisa menghadapi semuanya, Amin,” doaku sebelum tidur. *** Suara kumandang adzan di HP touchscreen itu, berhasil membangunkan tidur singkatku. Ya, aku hanya tertidur sekitar 4 jam. Tidur malam yang sangat singkat bukan? Insomniaku kembali melanda malam-malam sepiku, ia selalu menghampiriku ketika seluruh orang rumah sudah tertidur lelap dan ia juga berhasil membuatku merasa kesepian dan sendiri lagi. “Masih subuh,” gumamku. pagi itu terasa sangat dingin, dan dengan sendirinya tanganku menarik selimbut lebih keatas, hampir menutupi kepalaku. “Benar...

Serpihan Masa Lalu (Part III)

Ucapan mama di pagi itu, sepertinya bukan main-main. Tanda-tanda ke arah berpisah, sepertinya semakin terlihat. Ya sepertinya mama berniat untuk berpisah untuk yang kedua kalinya. Aku tahu, dulu dan sekarang itu, kesalahan memang tidak sepenuhnya berada di mama, justru menurutku papaku lah yang bersalah. Tetapi mungkin karena ego keduanya tidak bisa ditahan lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Kalau sekarang? Memang sih, terkadang mama dan papaku yang kedua ini terlihat seperti biasa-biasa saja, tidak ada masalah yang serius. Tapi aku tahu kok, dibalik semua itu mereka menyimpan rahasia masing-masing. Aku tahu, karena jujur, diam-diam aku menyelidiki mereka. Dosa? Ya, sepertinya aku memang berdosa, karena telah mengorek-ngorek rahasia orang lain. Tapi sesungguhnya, semua itu aku lakukan karena aku ingin tahu bagaimana kondisi keluarga ini sebenarnya. “Uhh.. sepertinya perut ini mulai berdemo untuk diberi makan. Padahal tadi siang aku makan cukup banyak, kenapa sekarang udah...

Serpihan Masa Lalu (Part II)

Lagu Opick yang mengalun dari HP touchscreen membuatku semakin terisak. Kepalaku terasa sangat berat dan sakit. Kesedihanku semakin menjadi ketika melihat foto keluarga yang terpampang di dinding kamar itu. Kenangan masa lalu, semakin menari-nari di pikiranku. Foto itu membuatku teringat akan masa kecilku. Kenangan dimana aku bisa tersenyum bahagia disaat semua keluargaku terkumpul, kenangan dimana aku pernah menerima pelukan hangat ketika papa pulang dari tempat kerjanya. Pelukan hangat dan kecupan di kening itu sungguh sangat berarti untukku, sepertinya saat itu aku merasa menjadi manusia yang sempurna, mempunyai keluarga yang sangat menyayangiku. Kebahagiaanku juga semakin bertambah dengan adanya sesosok kakak yang begitu telatennya melindungiku, seorang kakak yang selalu mengajakku ketika ia bermain. Sungguh, aku sangat merindukan saat-saat seperti itu. Tangisanku itu terhenti ketika mendapatkan pesan singkat dari seseorang yang cukup membuatku kembali tersenyum. Memang pesan itu ...